MUKJIZAT QUR'AN YG MASIH DAPAT
DILIHAT JELAS,BULAN TERBELAH 2!
السلام عليكم
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ
الرَّحِيم
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و
السلام على رسو ل الله.اما بعد
Bukankah Dalam Qur'an tertulis:
...Dan telah TERBELAH BULAN. (Qs.
54 Qamar:1)
Apakah betul apa yg difirmankan
ALLAH dalam Qur'an jika bulan
SAAT ini memang terbelah?
Perhatikan, mukjizat ini bukan
hanya sekedar cerita yang cuma
dapat
didengar saja, tapi mukjizat
Qur'an ini masih dapat dilihat
dengan
JELAS SEKALI.
Terlampir adalah foto bulan dari
koleksi NASA. Semoga hal itu akan
semakin menyempurnakan
keyakinan kita terhadap kekuasan
ALLAH dan
kerasulan nabi Muhammad SAW.
Dalam Bukhari dan Muslim, juga
dalam kitab2 hadits yang terkenal
lainnya, diriwayatkan bahwa
sebelum Rasulullah Muhammad
SAW hijrah,
berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy,
seperti Abu Jahal, Walid bin
Mughirah
dan Al 'Ash bin Qail.
Mereka meminta kepada nabi
Muhammad SAW untuk membelah
bulan. Kata
mereka, "Seandainya kamu
benar2 seorang nabi, maka
belahlah bulan
menjadi dua."
Rasulullah SAW berkata kepada
mereka, "Apakah kalian akan
masuk Islam jika aku sanggup
melakukannya?"
Mereka menjawab, "Ya." Lalu
Rasulullah Muhammad SAW
berdoa kepada ALLAH
agar bulan terbelah menjadi dua.
Rasulullah Muhammad SAW
memberi
isyarat dengan jarinya, maka
bulanpun terbelah menjadi dua.
Selanjutnya
sambil menyebut nama setiap
orang kafir yang hadir, Rasulullah
Muhammad
SAW berkata, "Hai Fulan,
bersaksilah kamu. Hai Fulan,
bersaksilah kamu."
Demikian jauh jarak belahan
bulan itu sehingga gunung Hira
nampak
berada diantara keduanya. Akan
tetapi orang2 kafir yang hadir
berkata,
"Ini sihir!" padahal semua orang
yang hadir menyaksikan
pembelahan
bulan tersebut dengan seksama.
Atas peristiwa ini ALLAH
menurunkan ayat Al Qur'an: "
Telah dekat saat
itu dan bulan telah terbelah. Dan
jika orang2 (kafir) menyaksikan
suatu
tanda (mukjizat), mereka
mengingkarinya dan mengatakan
bahwa itu adalah
sihir." (QS Al Qomar 54:1-2)
Apakah kalian akan
membenarkan ayat Al-Qur'an ini
yang menyebabkan
masuk Islamnya pimpinan Hizb
Islami Inggris? Di bawah ini
adalah
kisahnya. Dalam temu wicara di
televisi bersama pakar Geologi
Muslim,
Prof.Dr.Zaghlul Al-Najar, salah
seorang warga Inggris
mengajukan
pertanyaan kepadanya, apakah
ayat dari surat Al-Qamar di atas
memiliki
kandungan mukjizat secara
ilmiah? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-
Najar
menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan
menceritakan sebuah kisah.
Beberapa waktu
lalu, saya mempresentasikan hal
itu di University Cardif, Inggris
bagian Barat. Para peserta yang
hadir ber-macam2, ada yang
muslim dan
ada juga yang bukan muslim.
Salah satu tema diskusi waktu itu
adalah
seputar mukjizat ilmiah dari Al-
Qur'an.
Salah seorang pemuda yang
beragama muslim pun berdiri dan
bertanya, "
Wahai Tuan, apakah menurut
anda ayat yang berbunyi "Telah
dekat hari
qiamat dan bulan pun telah
terbelah" mengandung mukjizat
secara ilmiah?
Maka saya menjawabnya: Tidak,
sebab kehebatan ilmiah
diterangkan oleh
ilmu pengetahuan, sedangkan
mukjizat tidak bisa diterangkan
ilmu
pengetahuan, sebab ia tidak bisa
menjangkaunya. Dan tentang
terbelahnya
bulan, maka hal itu adalah
mukjizat yang terjadi pada masa
Rasul
terakhir Muhammad shallallahu
'alaihi wassalam, sebagai
pembenaran atas
kenabian dan kerasulannya,
sebagaimana nabi2 sebelumnya.
Dan mukjizat yang kelihatan,
maka itu disaksikan dan
dibenarkan oleh
setiap orang yang melihatnya.
Andai hal itu tidak termaktub di
dalam
kitab Allah dan hadits2 Rasulullah,
maka tentulah kami para
muslimin di
zaman ini tidak akan mengimani
hal itu. Akan tetapi hal itu
memang
benar termaktub di dalam Al-
Qur'an dan hadits2 Rasulullah
shallallahu
alaihi wassalam.
Dan memang Allah ta'alaa benar2
maha berkuasa atas segala
sesuatu.
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun
mengutip sebuah kisah Rasulullah
SAW membelah bulan. Kisah itu
adalah sebelum hijrah dari Mekah
Mukarramah ke Madinah
Munawarah.
Orang2 musyrik berkata, "Wahai
Muhammad, kalau engkau benar
Nabi dan Rasul, coba tunjukkan
kepada kami satu kehebatan yang
bisa membuktikan kenabian dan
kerasulanmu (dengan nada
mengejek dan meng-olok2)?"
Rasulullah SAW bertanya, "Apa
yang kalian inginkan?" Mereka
menjawab, "Coba belah bulan..."
Rasulullah SAW pun berdiri dan
terdiam, berdoa kepada Allah agar
menolongnya. Lalu Allah
memberitahu Muhammad SAW
agar mengarahkan telunjuknya ke
bulan.
Rasulullah pun mengarahkan
telunjuknya ke bulan dan
terbelahlah bulan
itu dengan se-benar2-nya. Serta-
merta orang2 musyrik pun
berujar,
"Muhammad, engkau benar2 telah
menyihir kami!"
Akan tetapi para ahli mengatakan
bahwa sihir, memang benar bisa
saja
"menyihir" orang yang ada
disampingnya akan tetapi tidak
bisa menyihir
orang yang tidak ada di tempat
itu. Lalu mereka pun menunggu
orang2
yang akan pulang dari perjalanan.
Orang2 Quraisy pun bergegas
menuju keluar batas kota Mekkah
menanti
orang yang baru pulang dari
perjalanan. Dan ketika datang
rombongan
yang pertama kali dari perjalanan
menuju Mekkah, orang2 musyrik
pun
bertanya,
"Apakah kalian melihat sesuatu
yang aneh dengan bulan?"
Mereka menjawab, "Ya, benar.
Pada suatu malam yang lalu kami
melihat bulan terbelah menjadi
dua dan saling menjauh masing2-
nya kemudian bersatu kembali..."
Maka sebagian mereka pun
beriman, dan sebagian lainnya
lagi tetap kafir
ingkar). Oleh karena itu, Allah
menurunkan ayat-Nya: "Sungguh,
telah
dekat hari qiamat, dan telah
terbelah bulan, dan ketika melihat
tanda2
kebesaran Kami, merekapun
ingkar lagi berpaling seraya
berkata,
"Ini adalah sihir yang terus-
menerus", dan mereka
mendustakannya, bahkan
mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan setiap urusan benar-benar
telah
tetap... (sampai akhir surat Al-
Qamar).
Ini adalah kisah nyata, demikian
kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar.
Dan setelah selesainya Prof. Dr.
Zaghlul menyampaikan hadits
nabi
tersebut, berdiri seorang muslim
warga Inggris dan
memperkenalkan diri
seraya berkata, "Aku Daud Musa
Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy
Inggris. Wahai Tuan, bolehkah
aku menambahkan?" Prof. Dr.
Zaghlul
Al-Najar menjawab:"Dipersilahkan
dengan senang hati."
Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku
pernah meneliti agama2 (sebelum
menjadi
muslim), maka salah seorang
mahasiswa muslim menunjukiku
sebuah
terjemah makna2 Al-Qur'an yang
mulia. Maka, aku pun berterima
kasih
kepadanya dan aku membawa
terjemah itu pulang ke rumah.
Dan ketika aku mem-buka2
terjemahan Al-Qur'an itu di
rumah, maka surat yang pertama
aku buka ternyata Al-Qamar. Dan
aku pun membacanya: "Telah
dekat hari
qiamat dan bulan pun telah
terbelah..."
Aku bergumam: Apakah kalimat
ini masuk akal? Apakah mungkin
bulan bisa
terbelah kemudian bersatu
kembali? Andai benar, kekuatan
macam apa yang
bisa melakukan hal itu? Maka, aku
pun berhenti membaca ayat2
selanjutnya dan aku menyibukkan
diri dengan urusan kehidupan se-
hari2.
Akan tetapi Allah maha tahu
tentang tingkat keikhlasam
hamba-Nya dalam
pencarian kebenaran.
Suatu hari aku duduk di depan
televisi Inggris. Saat itu ada
sebuah
diskusi antara seorang presenter
Inggris dan 3 orang pakar ruang
angkasa AS. Ketiga pakar
antariksa tersebut bercerita
tentang dana yang
begitu besar dalam rangka
melakukan perjalanan ke
antariksa, padahal
saat yang sama dunia sedang
mengalami masalah kelaparan,
kemiskinan,
sakit dan perselisihan.
Presenter berkata, "Andaikan
dana itu digunakan untuk
memakmurkan bumi,
tentulah lebih banyak gunanya."
Ketiga pakar itu pun membela diri
dengan proyek antariksanya dan
berkata, "Proyek antariksa ini
akan
membawa dampak yang sangat
positif pada banyak segmen
kehidupan
manusia, baik pada segi
kedokteran, industri ataupun
pertanian. Jadi
pendanaan tersebut bukanlah hal
yang sia2, akan tetapi hal itu
dalam rangka pengembangan
kehidupan manusia."
Dalam diskusi tersebut dibahas
tentang turunnya astronot hingga
menjejakkan kakinya di bulan,
dimana perjalanan antariksa ke
bulan
tersebut telah menghabiskan
dana tidak kurang dari 100 juta
dollar.
Mendengar hal itu, presenter
terperangah kaget dan berkata,
"Kebodohan
macam apalagi ini, dana yang
begitu besar dibuang oleh AS
hanya untuk
bisa mendarat di bulan?
" Mereka pun menjawab, "Tidak!
Tujuannya tidak semata
menancapkan ilmu
pengetahuan AS di bulan, akan
tetapi kami mempelajari
kandungan yang
ada di dalam bulan itu sendiri,
maka kami pun telah mendapat
hakikat
tentang bulan itu, yang jika kita
berikan dana lebih dari 100 juta
dollar untuk kesenangan manusia,
maka kami tidak akan
memberikan dana
itu kepada siapapun."
Mendengar hal itu, presenter itu
pun bertanya, "Hakikat apa yang
kalian
telah capai hingga demikian
mahal taruhannya?" Mereka
menjawab, "
Ternyata bulan pernah mengalami
pembelahan di suatu hari dahulu
kala,
kemudian menyatu kembali!
Presenter pun bertanya,
"Bagaimana kalian bisa yakin
akan hal itu?" Mereka menjawab,
"Kami mendapati secara pasti dari
batu2-an yang terpisah (katrena)
terpotong di permukaan bulan
sampai di dalam (perut) bulan.
Kami meminta para pakar geologi
untuk menelitinya, dan mereka
mengatakan, "Hal ini tidak
mungkin terjadi kecuali jika
memang bulan pernah terbelah
lalu bersatu kembali!"
Mendengar paparan itu, ketua Al-
Hizb Al-Islamy Inggris
mengatakan, "
Maka aku pun turun dari kursi
dan berkata, 'Mukjizat
(kehebatan) benar2
telah terjadi pada diri Muhammad
shallallahu alaihi wassallam 1400-
an
tahun yang lalu.
Allah benar2 telah meng-olok2 AS
untuk mengeluarkan dana yang
begitu besar, hingga 100 juta
dollar, hanya untuk menetapkan
akan kebenaran muslimin! Agama
Islam ini tidak mungkin salah...
Lalu aku pun kembali membuka
Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca
surat Al-Qamar.... Dan saat itu
adalah awal aku menerima dan
masuk Islam."
Diterjemahkan oleh: Abu
Muhammad ibn Shadiq
(Sabtu, 22
Sya'ban1424H/18-10-2003M)
----------------------
INSYA ALLAH PAGE GROUP INI TAK
AKAN MEMINTA UPAH DALAM
BENTUK ZAKAT, SHODAQOH, INFAQ
ATAU LAINNYA.
Janganlah ber-ibadah cuma untok
diri sendiri sahaja, sedang ramai
disekitar kita berkata "Semua
agama itu baik", "Semua agama
itu benar". Kita kena BUKTIKAN
cuma Islam sahaja yg benar.
Sila copy paste & yg paling utama
ialah menyebarkan & bagi tahu
rakan + saudara lain guna email,
picture post, wall post, TAG
picture dan semua cara kena
diguna untok menyebarkan
PEMBUKTIAN ISLAM IALAH SATU-
SATUNYA AGAMA YG BENAR.
Dakwahkanlah meski cuma 1 ayat
shaja, mulakan dari saudara &
rakan2 sekitar kita. Biar cuma sikit
1 ayat tapi disampaikan, lagi baik
daripada ramai ilmu tapi cuma
untok diri sendiri.
Tolong jemput/undang rakan +
saudara di bawah gambar
daripada page ini agar ramai
orang saling ingat meng-ingati
sesama insan:
http://www.facebook.com/
pages/-ISLAM-TERBUKTI-
BENAR-/298400792751?v=info
Rabu, 14 Juli 2010
Minggu, 11 Juli 2010
Asal usul nama indonesia
Sampai hari ini istilah nusantara
tetap kita pakai untuk
menyebutkan wilayah
tanah air kita dari Sabang sampai
Merauke. Tetapi nama resmi
bangsa dan
negara kita adalah Indonesia.
Kini akan kita telusuri dari mana
gerangan
nama yang sukar bagi lidah
Melayu ini muncul.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura
terbit sebuah majalah ilmiah
tahunan, *Journal
of the Indian Archipelago and
Eastern Asia* (JIAEA), yang
dikelola oleh
James Richardson Logan
(1819-1869), orang Skotlandia
yang meraih sarjana
hukum dari Universitas
Edinburgh. Kemudian pada tahun
1849 seorang ahli
etnologi bangsa Inggris, George
Samuel Windsor Earl (1813-1865)
,
menggabungkan diri sebagai
redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun
1850, halaman 66-74, Earl
menulis artikel *On
the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-
Polynesian
Nations*. Dalam artikelnya itu Earl
menegaskan bahwa sudah tiba
saatnya bagi
penduduk Kepulauan Hindia atau
Kepulauan Melayu untuk memiliki
nama khas (*a
distinctive name*), sebab nama
Hindia tidaklah tepat dan sering
rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl
mengajukan dua pilihan nama:
*Indunesia*atau
*Malayunesia* (*nesos* dalam
bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71
artikelnya itu tertulis: *... the
inhabitants of the Indian
Archipelago or
Malayan Archipelago would
become respectively Indunesians
or Malayunesians.*
Earl sendiri menyatakan memilih
nama *Malayunesia* (Kepulauan
Melayu)
daripada *Indunesia*
(Kepulauan Hindia), sebab
*Malayunesia* sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan
*Indunesia* bisa juga digunakan
untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives
(Maladewa). Lagi pula, kata Earl,
bukankah bahasa
Melayu dipakai di seluruh
kepulauan ini? Dalam tulisannya
itu Earl memang
menggunakan istilah
*Malayunesia* dan tidak
memakai istilah *Indunesia*.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga,
halaman 252-347, James
Richardson Logan
menulis artikel *The Ethnology of
the Indian Archipelago.* Pada
awal
tulisannya, Logan pun
menyatakan perlunya nama khas
bagi kepulauan tanah air
kita, sebab istilah "Indian
Archipelago" terlalu panjang dan
membingungkan.
Logan memungut nama
*Indunesia* yang dibuang Earl,
dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya
lebih baik. Maka lahirlah istilah
Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata
Indonesia muncul di dunia
dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan
Logan: *Mr. Earl suggests the
ethnographical term
Indunesian, but rejects it in
favour of Malayunesian. I prefer
the purely
geographical term Indonesia,
which is merely a shorter
synonym for the
Indian Islands or the Indian
Archipelago.* Ketika
mengusulkan nama
"Indonesia" agaknya Logan tidak
menyadari bahwa di kemudian
hari nama itu
akan menjadi nama bangsa dan
negara yang jumlah
penduduknya peringkat
keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara
konsisten menggunakan nama
"Indonesia" dalam
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang
etnologi dan geografi. Pada
tahun 1884 guru
besar etnologi di Universitas
Berlin yang bernama Adolf
Bastian (1826-1905)
menerbitkan buku *Indonesien
oder die Inseln des Malayischen
Archipel*sebanyak lima volume,
yang memuat hasil penelitiannya
ketika
mengembara ke
tanah air kita tahun 1864 sampai
1880. Buku Bastian inilah yang
memopulerkan
istilah "Indonesia" di kalangan
sarjana Belanda, sehingga
sempat timbul
anggapan bahwa istilah
"Indonesia" itu ciptaan Bastian.
Pendapat yang tidak
benar itu, antara lain tercantum
dalam *Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie*tahun 1918.
Padahal Bastian mengambil
istilah
"Indonesia" itu dari
tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula
menggunakan istilah "Indonesia"
adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantara). Ketika di buang ke
negeri Belanda
tahun 1913 beliau mendirikan
sebuah biro pers dengan nama
*Indonesische
Pers-bureau.*
Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama
"Indonesia" yang merupakan
istilah ilmiah dalam
etnologi dan geografi itu diambil
alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan
kmerdekaan tanah air kita,
shingga nama "Indonesia"
akhirnya memiliki
makna politis, yaitu identitas
suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda
mulai curiga dan waspada
terhadap pemakaian
kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta, seorang
mahasiswa *Handels
Hoogeschool* di Rotterdam,
organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri
Belanda (yang terbentuk thn
1908 dengan
nama *Indische
Vereeniging*) berubah nama
mjd *Indonesische
Vereeniging* atau
Perhimpoenan Indonesia.
Sumber: pml94.multiply.com
tetap kita pakai untuk
menyebutkan wilayah
tanah air kita dari Sabang sampai
Merauke. Tetapi nama resmi
bangsa dan
negara kita adalah Indonesia.
Kini akan kita telusuri dari mana
gerangan
nama yang sukar bagi lidah
Melayu ini muncul.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura
terbit sebuah majalah ilmiah
tahunan, *Journal
of the Indian Archipelago and
Eastern Asia* (JIAEA), yang
dikelola oleh
James Richardson Logan
(1819-1869), orang Skotlandia
yang meraih sarjana
hukum dari Universitas
Edinburgh. Kemudian pada tahun
1849 seorang ahli
etnologi bangsa Inggris, George
Samuel Windsor Earl (1813-1865)
,
menggabungkan diri sebagai
redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun
1850, halaman 66-74, Earl
menulis artikel *On
the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-
Polynesian
Nations*. Dalam artikelnya itu Earl
menegaskan bahwa sudah tiba
saatnya bagi
penduduk Kepulauan Hindia atau
Kepulauan Melayu untuk memiliki
nama khas (*a
distinctive name*), sebab nama
Hindia tidaklah tepat dan sering
rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl
mengajukan dua pilihan nama:
*Indunesia*atau
*Malayunesia* (*nesos* dalam
bahasa Yunani berarti pulau).
Pada halaman 71
artikelnya itu tertulis: *... the
inhabitants of the Indian
Archipelago or
Malayan Archipelago would
become respectively Indunesians
or Malayunesians.*
Earl sendiri menyatakan memilih
nama *Malayunesia* (Kepulauan
Melayu)
daripada *Indunesia*
(Kepulauan Hindia), sebab
*Malayunesia* sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan
*Indunesia* bisa juga digunakan
untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives
(Maladewa). Lagi pula, kata Earl,
bukankah bahasa
Melayu dipakai di seluruh
kepulauan ini? Dalam tulisannya
itu Earl memang
menggunakan istilah
*Malayunesia* dan tidak
memakai istilah *Indunesia*.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga,
halaman 252-347, James
Richardson Logan
menulis artikel *The Ethnology of
the Indian Archipelago.* Pada
awal
tulisannya, Logan pun
menyatakan perlunya nama khas
bagi kepulauan tanah air
kita, sebab istilah "Indian
Archipelago" terlalu panjang dan
membingungkan.
Logan memungut nama
*Indunesia* yang dibuang Earl,
dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya
lebih baik. Maka lahirlah istilah
Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata
Indonesia muncul di dunia
dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan
Logan: *Mr. Earl suggests the
ethnographical term
Indunesian, but rejects it in
favour of Malayunesian. I prefer
the purely
geographical term Indonesia,
which is merely a shorter
synonym for the
Indian Islands or the Indian
Archipelago.* Ketika
mengusulkan nama
"Indonesia" agaknya Logan tidak
menyadari bahwa di kemudian
hari nama itu
akan menjadi nama bangsa dan
negara yang jumlah
penduduknya peringkat
keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara
konsisten menggunakan nama
"Indonesia" dalam
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan
lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang
etnologi dan geografi. Pada
tahun 1884 guru
besar etnologi di Universitas
Berlin yang bernama Adolf
Bastian (1826-1905)
menerbitkan buku *Indonesien
oder die Inseln des Malayischen
Archipel*sebanyak lima volume,
yang memuat hasil penelitiannya
ketika
mengembara ke
tanah air kita tahun 1864 sampai
1880. Buku Bastian inilah yang
memopulerkan
istilah "Indonesia" di kalangan
sarjana Belanda, sehingga
sempat timbul
anggapan bahwa istilah
"Indonesia" itu ciptaan Bastian.
Pendapat yang tidak
benar itu, antara lain tercantum
dalam *Encyclopedie van
Nederlandsch-Indie*tahun 1918.
Padahal Bastian mengambil
istilah
"Indonesia" itu dari
tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula
menggunakan istilah "Indonesia"
adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantara). Ketika di buang ke
negeri Belanda
tahun 1913 beliau mendirikan
sebuah biro pers dengan nama
*Indonesische
Pers-bureau.*
Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama
"Indonesia" yang merupakan
istilah ilmiah dalam
etnologi dan geografi itu diambil
alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan
kmerdekaan tanah air kita,
shingga nama "Indonesia"
akhirnya memiliki
makna politis, yaitu identitas
suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda
mulai curiga dan waspada
terhadap pemakaian
kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta, seorang
mahasiswa *Handels
Hoogeschool* di Rotterdam,
organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri
Belanda (yang terbentuk thn
1908 dengan
nama *Indische
Vereeniging*) berubah nama
mjd *Indonesische
Vereeniging* atau
Perhimpoenan Indonesia.
Sumber: pml94.multiply.com
Asal usul nama indonesia
PADA zaman purba, kepulauan
tanah air kita disebut dengan
aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa
kawasan kepulauan kita dinamai
*Nan-hai* (Kepulauan
Laut Selatan). Berbagai catatan
kuno bangsa India menamai
kepulauan ini *
Dwipantara* (Kepulauan Tanah
Seberang), nama yang
diturunkan dari kata
Sansekerta *dwipa* (pulau) dan
*antara* (luar, seberang). Kisah
Ramayana
karya pujangga Valmiki yang
termasyhur itu menceritakan
pencarian terhadap
Sinta, istri Rama yang diculik
Ravana, sampai ke
*Suwarnadwipa* (Pulau Emas,
yaitu Sumatra sekarang) yang
terletak di Kepulauan
Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air
kita *Jaza'ir al-Jawi* (Kepulauan
Jawa). Nama
Latin untuk kemenyan adalah
*benzoe*, berasal dari bahasa
Arab *luban
jawi*(kemenyan Jawa), sebab
para pedagang Arab
memperoleh kemenyan
dari batang
pohon *Styrax sumatrana* yang
dahulu hanya tumbuh di
Sumatra. Sampai hari
ini jemaah haji kita masih sering
dipanggil "Jawa" oleh orang
Arab. Bahkan
orang Indonesia luar Jawa
sekalipun. "Samathrah, Sholibis,
Sundah, kulluh
Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda,
semuanya Jawa)" kata seorang
pedagang di
Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan
orang Eropa ke Asia. Bangsa-
bangsa Eropa yang
pertama kali datang itu
beranggapan bahwa Asia hanya
terdiri dari Arab,
Persia, India, dan Cina. Bagi
mereka, daerah yang terbentang
luas antara
Persia dan Cina semuanya adalah
"Hindia". Semenanjung Asia
Selatan mereka
sebut "Hindia Muka" dan daratan
Asia Tenggara dinamai "Hindia
Belakang".
Sedangkan tanah air kita
memperoleh nama "Kepulauan
Hindia" (*Indische
Archipel, Indian Archipelago,
l'Archipel Indien*) atau "Hindia
Timur" *(Oost
Indie, East Indies, Indes
Orientales)*. Nama lain yang juga
dipakai adalah
"Kepulauan Melayu" (*Maleische
Archipel, Malay Archipelago,
l'Archipel
Malais*).
Ketika tanah air kita terjajah oleh
bangsa Belanda, nama resmi
yang
digunakan adalah
*Nederlandsch-Indie* (Hindia
Belanda), sedangkan pemerintah
pendudukan Jepang 1942-1945
memakai istilah *To-Indo*
(Hindia Timur). Eduard
Douwes Dekker (1820-1887),
yang dikenal dengan nama
samaran Multatuli,
pernah mengusulkan nama yang
spesifik untuk menyebutkan
kepulauan tanah air
kita, yaitu *Insulinde*, yang
artinya juga "Kepulauan
Hindia" (bahasa Latin
*insula* berarti pulau). Tetapi
rupanya nama *Insulinde* ini
kurang populer.
Bagi orang Bandung, *Insulinde*
mungkin cuma dikenal sebagai
nama toko buku
yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest
Francois Eugene Douwes Dekker
(1879-1950), yang
kita kenal sebagai Dr. Setiabudi
(beliau adalah cucu dari adik
Multatuli),
memopulerkan suatu nama
untuk tanah air kita yang tidak
mengandung unsur
kata "India". Nama itu tiada lain
adalah Nusantara, suatu istilah
yang telah
tenggelam berabad-abad
lamanya. Setiabudi mengambil
nama itu dari Pararaton,
naskah kuno zaman Majapahit
yang ditemukan di Bali pada
akhir abad ke-19
lalu diterjemahkan oleh J.L.A.
Brandes dan diterbitkan oleh
Nicholaas
Johannes Krom pada tahun
1920.
Namun perlu dicatat bahwa
pengertian Nusantara yang
diusulkan Setiabudi jauh
berbeda dengan pengertian,
nusantara zaman Majapahit. Pada
masa Majapahit
Nusantara digunakan untuk
menyebutkan pulau-pulau di luar
Jawa (antara dalam
bahasa Sansekerta artinya luar,
seberang) sebagai lawan dari
*Jawadwipa*(Pulau Jawa). Kita
tentu pernah mendengar
Sumpah Palapa
dari Gajah Mada,
*"Lamun huwus kalah nusantara,
isun amukti palapa" *(Jika telah
kalah
pulau-pulau seberang, barulah
saya menikmati istirahat). Oleh
Dr. Setiabudi
kata nusantara zaman Majapahit
yang berkonotasi jahiliyah itu
diberi
pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu
asli antara,
maka Nusantara kini memiliki arti
yang baru yaitu "nusa di antara
dua benua
dan dua samudra", sehingga
Jawa pun termasuk dalam
definisi nusantara yang
modern. Istilah nusantara dari
Setiabudi ini dengan cepat
menjadi populer
penggunaannya sebagai
alternatif dari nama Hindia
Belanda. lanjutkan >>
Sumber dari: pml94.multiply.com
tanah air kita disebut dengan
aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa
kawasan kepulauan kita dinamai
*Nan-hai* (Kepulauan
Laut Selatan). Berbagai catatan
kuno bangsa India menamai
kepulauan ini *
Dwipantara* (Kepulauan Tanah
Seberang), nama yang
diturunkan dari kata
Sansekerta *dwipa* (pulau) dan
*antara* (luar, seberang). Kisah
Ramayana
karya pujangga Valmiki yang
termasyhur itu menceritakan
pencarian terhadap
Sinta, istri Rama yang diculik
Ravana, sampai ke
*Suwarnadwipa* (Pulau Emas,
yaitu Sumatra sekarang) yang
terletak di Kepulauan
Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air
kita *Jaza'ir al-Jawi* (Kepulauan
Jawa). Nama
Latin untuk kemenyan adalah
*benzoe*, berasal dari bahasa
Arab *luban
jawi*(kemenyan Jawa), sebab
para pedagang Arab
memperoleh kemenyan
dari batang
pohon *Styrax sumatrana* yang
dahulu hanya tumbuh di
Sumatra. Sampai hari
ini jemaah haji kita masih sering
dipanggil "Jawa" oleh orang
Arab. Bahkan
orang Indonesia luar Jawa
sekalipun. "Samathrah, Sholibis,
Sundah, kulluh
Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda,
semuanya Jawa)" kata seorang
pedagang di
Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan
orang Eropa ke Asia. Bangsa-
bangsa Eropa yang
pertama kali datang itu
beranggapan bahwa Asia hanya
terdiri dari Arab,
Persia, India, dan Cina. Bagi
mereka, daerah yang terbentang
luas antara
Persia dan Cina semuanya adalah
"Hindia". Semenanjung Asia
Selatan mereka
sebut "Hindia Muka" dan daratan
Asia Tenggara dinamai "Hindia
Belakang".
Sedangkan tanah air kita
memperoleh nama "Kepulauan
Hindia" (*Indische
Archipel, Indian Archipelago,
l'Archipel Indien*) atau "Hindia
Timur" *(Oost
Indie, East Indies, Indes
Orientales)*. Nama lain yang juga
dipakai adalah
"Kepulauan Melayu" (*Maleische
Archipel, Malay Archipelago,
l'Archipel
Malais*).
Ketika tanah air kita terjajah oleh
bangsa Belanda, nama resmi
yang
digunakan adalah
*Nederlandsch-Indie* (Hindia
Belanda), sedangkan pemerintah
pendudukan Jepang 1942-1945
memakai istilah *To-Indo*
(Hindia Timur). Eduard
Douwes Dekker (1820-1887),
yang dikenal dengan nama
samaran Multatuli,
pernah mengusulkan nama yang
spesifik untuk menyebutkan
kepulauan tanah air
kita, yaitu *Insulinde*, yang
artinya juga "Kepulauan
Hindia" (bahasa Latin
*insula* berarti pulau). Tetapi
rupanya nama *Insulinde* ini
kurang populer.
Bagi orang Bandung, *Insulinde*
mungkin cuma dikenal sebagai
nama toko buku
yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest
Francois Eugene Douwes Dekker
(1879-1950), yang
kita kenal sebagai Dr. Setiabudi
(beliau adalah cucu dari adik
Multatuli),
memopulerkan suatu nama
untuk tanah air kita yang tidak
mengandung unsur
kata "India". Nama itu tiada lain
adalah Nusantara, suatu istilah
yang telah
tenggelam berabad-abad
lamanya. Setiabudi mengambil
nama itu dari Pararaton,
naskah kuno zaman Majapahit
yang ditemukan di Bali pada
akhir abad ke-19
lalu diterjemahkan oleh J.L.A.
Brandes dan diterbitkan oleh
Nicholaas
Johannes Krom pada tahun
1920.
Namun perlu dicatat bahwa
pengertian Nusantara yang
diusulkan Setiabudi jauh
berbeda dengan pengertian,
nusantara zaman Majapahit. Pada
masa Majapahit
Nusantara digunakan untuk
menyebutkan pulau-pulau di luar
Jawa (antara dalam
bahasa Sansekerta artinya luar,
seberang) sebagai lawan dari
*Jawadwipa*(Pulau Jawa). Kita
tentu pernah mendengar
Sumpah Palapa
dari Gajah Mada,
*"Lamun huwus kalah nusantara,
isun amukti palapa" *(Jika telah
kalah
pulau-pulau seberang, barulah
saya menikmati istirahat). Oleh
Dr. Setiabudi
kata nusantara zaman Majapahit
yang berkonotasi jahiliyah itu
diberi
pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu
asli antara,
maka Nusantara kini memiliki arti
yang baru yaitu "nusa di antara
dua benua
dan dua samudra", sehingga
Jawa pun termasuk dalam
definisi nusantara yang
modern. Istilah nusantara dari
Setiabudi ini dengan cepat
menjadi populer
penggunaannya sebagai
alternatif dari nama Hindia
Belanda. lanjutkan >>
Sumber dari: pml94.multiply.com
Sabtu, 10 Juli 2010
Kesesi: Asal usul pekalongan
Pekalongan sebagaimana
diungkapkan oleh masyarakat
setempat secara turun
temurun terdapat beberapa
versi. Salah satunya disebutkan
adalah pada masa Raden
Bahurekso sebagai tokoh
panglima Kerajaan Mataram.
Pada tahun 1628 beliau
mendapat perintah dari Sultan
Agung untuk menyerang VOC
(Vereenigde Oost Indishe
Compagnic / Perserikatan
Maskapai Hindia Timur) di
Batavia. Maka ia berjuang
keras, bahkan diawali dengan
bertapa seperti kalong /
kelelawar (bahasa Jawa : topo
ngalong) di hutan Gambiran
(sekarang : kampung Gambaran
letaknya disekitar jembatan
Anim dan desa Sorogenen).
Dalam pertapaannya
diceritakan bahwa Raden
Bahurekso digoda dan
diganggu Dewi Lanjar beserta
para prajurit siluman yang
merupakan pengikutnya.
Namun semua godaan Dewi
Lanjar beserta para
pengikutnya dapat dikalahkan
bahkan tunduk kepada Raden
Bahurekso. Kemudian Dewi
Lanjar, yang merupakan utusan
Ratu Roro Kidul memutuskan
untuk tidak kembali ke Pantai
Selatan, akan tetapi kemudian
memohon ijin kepada Raden
Bahurekso untuk tinggal
disekitar wilayah ini. Raden
Bahurekso memenuhi
permohonan ini bahkan Ratu
Roro Kidul juga menyetujuinya.
Dewi Lanjar diperkenankan
tinggal dipantai utara Jawa
Tengah. Konon letak keraton
Dewi Lanjar dipantai
Pekalongan sebelah sungai
Slamaran. Sejak saat itu,
daerah tersebut terkenal
dengan nama Pekalongan.
Dalam versi lain disebutkan
bahwa nama Pekalongan
berasal dari istilah setempat
HALONG - ALONG yang artinya
hasil yang berlimpah. Jadi
Pekalongan disebut juga
dengan nama PENGANGSALAN
yang artinya pembawa
keberuntungan. Nama
Pengangsalan ini ternyata juga
ada dalam babad Mataram
(Sultan Agung) , yaitu :
"Gegaman wus kumpul dadi siji,
samya dandan samya numpak
palwa, gya ancal mring
samudrane, lampahe lumintu,
ing Tirboyo lawan semawis, ing
Lepentangi, Kendal, Batang,
Tegal, Sampun, Barebes lan
Pengangsalan. Wong pesisir
sadoyo tan ono kari, ing Carbon
nggertata".
Artinya : "senjata-senjata telah
berkumpul jadi satu. Setelah
semuanya siap, para prajurit
diberangkatkan berlayar.
Pelayarannya tiada henti-
hentinya melewati Tirbaya,
Semarang, Kaliwungu, Kendal,
Batang, Tegal, Brebes dan
Pengangsalan. Semua orang
pesisir tidak ada yang
ketinggalan (mereka berangkat
menyiapkan diri di Cirebon
untuk berangkat ke Batavia
guna menyerbu VOC Belanda)".
sumber
dari: www.batikmarkets.com
Asal usul pekalongan
Legenda menerangkan bahwa
Pekalongan adalah dari TOPO
NGALONG – nya Joko Bau ( Bau
Rekso ) yang dianggapnya
pahlawan daerahnya kota
Pekalongan yang kemudian
menjadi Pahlawan Mataram yang
berasal dari Kesesi Kabupaten
Pekalongan Putra Kyai Cempaluk.
Dikisahlkan tatkala Joko Bau
bertapa di alas Gambiran
( kemudian menjadi Gambaran
Muka PLN Pekalognan ) tak ada
satupun yang bisa dapat
menggugahnya termasuk Raden
Ngaten Dewi Lanjar ( ratu segoro
Lor ) . Godaan – godaan dari
prajurit silumannya dewi lanjar
Bisa dikalahkan dengan
kekuatan gaibnya Joko Bau yang
dalm kisah selanjutnya Dewi
Lanjar kemudian bertekuk lutut
dan dipersuntingnya.
Satu –satunya yang bisa
menggugah Topo Ngalongnya
Joko Bau adalah TAN KWIE DJAN
yang mendapat tugas dari
mataram.
Tan Kwie Djan berhasil, yang
akhirnya bersama sowan
Mataram untuk menerima tugas
lebih lanjut.
Dari asal Topo Ngalong inilah
kemudian timbul Nama
Pekalongan, Karena waktu topo
Ngalong INI jamannya Sultan
Agung , maka timbullah ” NAMA
PEKALONGAN ” menurut versi ini
seputar abad 17. ( dalam sejarah
Bau Rekso gugur 21 september
1628 di batavia dalam
peperangan melawan VOC).
Versi Topo Ngalongnya Joko Bau
ini berbeda tempat, ada yang
menerangkan di Kesesi ,
Wiradesa dan ada yang
terangkan di antara Ulujamu –
Comal – Kesesi, di alun – alun
Pekalongan , Slamaran.
• KALINGGA.
Sementara masyarakat Pekalonga
beranggapan bahwa letak
kerajaan Kalingga konon adalah
di desa Linggoasri kecamatan
Kajen Kabupaten pekalongan
yang sekarang , dari Klingga
inillah kemudian dihubungkan
dengan kata kaling, keling,
kalang, dan akhirnya menjadi
kalong. Dan dari kata kalong
kemudian timbullah nama
Pekalongan.
Karen kerajaan kalingga di abad
6 – 7, maka timbulnya nama
Pekalongan menurut versi ini
seputar abad 6 s/d 7.
• KALONG ( KELELAWAR )
Dari asal kata kalong ( kelelawar )
, karena di Pekalongan dulunya
banyak kelelawar / kalong,
terutama di daerah kesesi
dimana asal mula Bau Rekso
dilahirkan dari keluarga Kyai
Cempaluk. Dalam versi yang
sama, tempatnya lain, yakni
dikisahkan di sepanjang kali
Pekalongan ( kergon ) , dimana
disini dulunya dulunya diatas
pohon Slumpring banyak
binatang kelelawarnya dan ju8ga
diatas Randu Gembyang
( kandang panjang Kodia
Pekalongan ) yang bnyak
kelelawarnya dan merupakan
tanda bagi kaum nelayan yang
biasa dijadikan pedoman bahwa
disitu adalah pantai, yang
kemudian dinamakan
Pekalongan.
Inipun terjadi seputar abad ke
17 ( jamannya Bau Rekso)
• KALANG.
Pekalongan , ada yang
menerangkan dari kata kalang
dan kalang disinipun sebenarnya
ada beberapa pengertian Yakni :
1. Asal kata dari Kalingga – keling
dan kemudian kalang .
2. Kalang yang berarti hilir
mudik .
3. Kalang berarti sama sejenis
ikan laut ( cakalang ) .
4. Kalang yang berarti diasingkan
ke....( di selong ) .
Di dalam satu cerita rakyat
daerah Pekalongan ini bermula
berupa Hutan semak – semak
yang banyak setan, silumanny
dan tempat tersebut merupakan
suatu tempat yang ditakuti oleh
siapapun. Oleh Mataram
kemudian tempat semacam ini
dipergunakan untuk
pembuangan sebagai hukuman
bagi orang – orang yang
membangkang pada Mataram
ataupun yang di anggapnya
membahayakan bagi mataram
sendiri.,Diantaranya yang
dikalang disini menurut cerita
adalah Bau Rekso yang tadinnya
putra Mataram.Dari kata ini pada
masa selanjutnya kalang
berkembang menjadi kalong dan
kemudian Pekalongan . juga
sebelumnya ada yang
menyebutnya Pekalangan.
Disamping itu kalang ada yang
mengartikan gelanggang,
sekelompok dsb .
• ASAL DAERAH SEMULA .
Pekalongan yang di Pekalongan
yang sekarang ini sebermula
pindahan dari daerah
Pekalongan yang terletak di
Surabaya Jawa Timur, sebagai
transmigran istilah sekarang .
Kapan mulai pindah kepesisir
utara yang kemudian di
namakan Pekalongan seperti
daerah asalnya belumlah jelas
( keterangan ; Peta Surabaya
Tauhun 1866 , di daerah ini
tercantum Nama Pekalongan
sebagai Wilayah dan sungai ) .
• PEK ALONG .
Diteliti asal katanya pek dan
along ini bermacam pula artinya ,
diantaranya adalah berarti ;
Pek = seratus , pak de ( si wo ) ,
luru ( mencari , apek ), sedang
Along yang tadinya halong ,
adalah bahasa sehari – hari
nelayan yang berarti mendapat
banyak .
Pek Along kemudian berarti ,
mencari ikan di laut mendapat
( hasil ). Dari Pek Along ,
kemudian menjadi A – Pek – H –
Long – An = Pekalongan , dan
bagi masyarakat sendiri
dikromokan menjadi
PENGANGSALAN.
Pekalongan adalah dari TOPO
NGALONG – nya Joko Bau ( Bau
Rekso ) yang dianggapnya
pahlawan daerahnya kota
Pekalongan yang kemudian
menjadi Pahlawan Mataram yang
berasal dari Kesesi Kabupaten
Pekalongan Putra Kyai Cempaluk.
Dikisahlkan tatkala Joko Bau
bertapa di alas Gambiran
( kemudian menjadi Gambaran
Muka PLN Pekalognan ) tak ada
satupun yang bisa dapat
menggugahnya termasuk Raden
Ngaten Dewi Lanjar ( ratu segoro
Lor ) . Godaan – godaan dari
prajurit silumannya dewi lanjar
Bisa dikalahkan dengan
kekuatan gaibnya Joko Bau yang
dalm kisah selanjutnya Dewi
Lanjar kemudian bertekuk lutut
dan dipersuntingnya.
Satu –satunya yang bisa
menggugah Topo Ngalongnya
Joko Bau adalah TAN KWIE DJAN
yang mendapat tugas dari
mataram.
Tan Kwie Djan berhasil, yang
akhirnya bersama sowan
Mataram untuk menerima tugas
lebih lanjut.
Dari asal Topo Ngalong inilah
kemudian timbul Nama
Pekalongan, Karena waktu topo
Ngalong INI jamannya Sultan
Agung , maka timbullah ” NAMA
PEKALONGAN ” menurut versi ini
seputar abad 17. ( dalam sejarah
Bau Rekso gugur 21 september
1628 di batavia dalam
peperangan melawan VOC).
Versi Topo Ngalongnya Joko Bau
ini berbeda tempat, ada yang
menerangkan di Kesesi ,
Wiradesa dan ada yang
terangkan di antara Ulujamu –
Comal – Kesesi, di alun – alun
Pekalongan , Slamaran.
• KALINGGA.
Sementara masyarakat Pekalonga
beranggapan bahwa letak
kerajaan Kalingga konon adalah
di desa Linggoasri kecamatan
Kajen Kabupaten pekalongan
yang sekarang , dari Klingga
inillah kemudian dihubungkan
dengan kata kaling, keling,
kalang, dan akhirnya menjadi
kalong. Dan dari kata kalong
kemudian timbullah nama
Pekalongan.
Karen kerajaan kalingga di abad
6 – 7, maka timbulnya nama
Pekalongan menurut versi ini
seputar abad 6 s/d 7.
• KALONG ( KELELAWAR )
Dari asal kata kalong ( kelelawar )
, karena di Pekalongan dulunya
banyak kelelawar / kalong,
terutama di daerah kesesi
dimana asal mula Bau Rekso
dilahirkan dari keluarga Kyai
Cempaluk. Dalam versi yang
sama, tempatnya lain, yakni
dikisahkan di sepanjang kali
Pekalongan ( kergon ) , dimana
disini dulunya dulunya diatas
pohon Slumpring banyak
binatang kelelawarnya dan ju8ga
diatas Randu Gembyang
( kandang panjang Kodia
Pekalongan ) yang bnyak
kelelawarnya dan merupakan
tanda bagi kaum nelayan yang
biasa dijadikan pedoman bahwa
disitu adalah pantai, yang
kemudian dinamakan
Pekalongan.
Inipun terjadi seputar abad ke
17 ( jamannya Bau Rekso)
• KALANG.
Pekalongan , ada yang
menerangkan dari kata kalang
dan kalang disinipun sebenarnya
ada beberapa pengertian Yakni :
1. Asal kata dari Kalingga – keling
dan kemudian kalang .
2. Kalang yang berarti hilir
mudik .
3. Kalang berarti sama sejenis
ikan laut ( cakalang ) .
4. Kalang yang berarti diasingkan
ke....( di selong ) .
Di dalam satu cerita rakyat
daerah Pekalongan ini bermula
berupa Hutan semak – semak
yang banyak setan, silumanny
dan tempat tersebut merupakan
suatu tempat yang ditakuti oleh
siapapun. Oleh Mataram
kemudian tempat semacam ini
dipergunakan untuk
pembuangan sebagai hukuman
bagi orang – orang yang
membangkang pada Mataram
ataupun yang di anggapnya
membahayakan bagi mataram
sendiri.,Diantaranya yang
dikalang disini menurut cerita
adalah Bau Rekso yang tadinnya
putra Mataram.Dari kata ini pada
masa selanjutnya kalang
berkembang menjadi kalong dan
kemudian Pekalongan . juga
sebelumnya ada yang
menyebutnya Pekalangan.
Disamping itu kalang ada yang
mengartikan gelanggang,
sekelompok dsb .
• ASAL DAERAH SEMULA .
Pekalongan yang di Pekalongan
yang sekarang ini sebermula
pindahan dari daerah
Pekalongan yang terletak di
Surabaya Jawa Timur, sebagai
transmigran istilah sekarang .
Kapan mulai pindah kepesisir
utara yang kemudian di
namakan Pekalongan seperti
daerah asalnya belumlah jelas
( keterangan ; Peta Surabaya
Tauhun 1866 , di daerah ini
tercantum Nama Pekalongan
sebagai Wilayah dan sungai ) .
• PEK ALONG .
Diteliti asal katanya pek dan
along ini bermacam pula artinya ,
diantaranya adalah berarti ;
Pek = seratus , pak de ( si wo ) ,
luru ( mencari , apek ), sedang
Along yang tadinya halong ,
adalah bahasa sehari – hari
nelayan yang berarti mendapat
banyak .
Pek Along kemudian berarti ,
mencari ikan di laut mendapat
( hasil ). Dari Pek Along ,
kemudian menjadi A – Pek – H –
Long – An = Pekalongan , dan
bagi masyarakat sendiri
dikromokan menjadi
PENGANGSALAN.
sumber dari: the-wiskah.blogspot.com
Kamis, 08 Juli 2010
Kali layang
Kali layang
atau sungai layangan yang memisahkan antara kabupaten pekalongan sebelah barat dan kabupaten pemalang sebelah timur ini, adalah kekayaan alam yang tak ternilai harganya bagi warga kesesi dan sekitarnya, dan berkat dibangunnya bendungan kaliwadas pada masa penjajahan belanda, ribuan hektar persawahan di wilayah ini, mendapat pasokan air yang cukup dari sungai ini, meskipun pernah terjadi krisis pangan dikarenakan jebolnya bendungan ini sekitar tahun 60an,namun pemerintah segera tanggap dan melakukan pemugaran kembali bendungan ini, sehingga krisis yang terjadi dapat diatasi dengan cukup baik.Ketika kita berada dibendungan kali wadas maka kita akan melihat bongkahan-bongkahan beton besar bekas jebolnya tanggul bendungan, yang menjadi saksi bisu dari terjadinya krisis pangan diwilayah kesesi dan sekitarnya pada era tahun 60an.
Menurut warga disekitar sungai, mulanya sungai layan ini tidaklah selebar sekarang ini, mungkin hanya beberapa meter saja lebarnya.
Namun seiring waktu sungai ini melebar dan bergeser dari tempatnya semula ,bahkan banyak warga yang mau tidak mau harus kehilangan tanah,ladang atau berpindah dari tempat tinggalnya semula di dekat sungai ,dikarenakan longsor,serta terkikisnya tanah oleh aliran air yang tidak terkendali melewati sungai kali layang ketika musim penghujan datang.
penambangan pasir dan batu oleh warga, berpotensi menyokong terjadinya kerusakan pada struktur alam disekitarnya.
Namun Terlepas dari itu semua, sungai ini memberikan penghasilan yang cukup bagi para penambang yg sebagaian besar adalah warga desa kesesi dan sekitarnya.Rabu, 07 Juli 2010
Sekilas tentang kesesi
Kesesi adalah sebuah kecamatan yang masih termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten pekalongan,jawa tengah.
Dan merupakan kecamatan dibagaian paling barat di kabupaten pekalongan,yang dibatasi oleh sebuah sungai besar yang disebut dengan kali layang atau kali layangan. Sungai besar yang berada dikecamatan kesesi bagaian barat ini memisahkan antara kabupaten pekalongan bagaian barat dengan kabupaten pemalang bagaian timur.
Cukup luasnya area persawahan diwilayah ini, menjadikan mayoritas penduduk dikecamatan ini
merupakan para petani penggarap sawah, sebagaian lagi berdagang,dan kebanyakan dari pemuda dikesesi merantau dijakarta, atau kota-kota lain sebagai karyawan pabrik,garmen,dan konfeksi.
Perkembangan demi perkembangan mulai terlihat lebih cepat ketika dipindahkannya kantor kabupaten pekalongan dikota kajen yang bersebelahan langsung dengan kecamatan kesesi paling timur.
Ini terlihat dari mulai diperbaikinya akses-akses utama yang menghubungkan antara kajen dan kesesi, fasilitas-fasilitas publikpun mengalami segala perbaikan seperti pasar utama,sekolah,dll di kecamatan kesesi.
Tentu saja ini akan berpengaruh besar kepada aktivitas ekonomi yang ada di wilayah ini, meski itu belum cukup jelas terlihat,namun beberapa tahun mendatang perubahan besar kepada aktivitas ekonomi warga.
Kita semua berharap kemajuan demi kemajuan akan terus terjadi dan menjadikan warga lebih baik dalam kehidupan,ekonomi,budaya,dll.
kegiatan kegamaan yang sangat kental cukup mewarnai kehidupan warga,
seperti aktivitas keorganisasian,pengajian-pengajian rutin, dzikir bersama,dll
kehidupan yang sangat agamis menjadi selaras dengan kabupaten pekalongan yang diberi slogan sebagai kota santri.
organisasi-organisasi islam pun berkembang cukup baik diwilayah ini seperti NU,MUHAMMADIYAH,RIFA'IYAH, dll,
keharmonisan hidup warga pun terbangun dengan cukup baik,hampir tidak pernah terjadi konflik antar warga, atau hal-hal lain yang memicu terjadinya perpecahan.
Kehidupan yang damai,saling menghormati, gotong-royong,serta toleransi antar warga menjadi harmonisasi yang sangat indah,mewarnai hampir disetiap desa,dan dusun di wilayah ini.
Kiranya cukup yang kami sampaikan sekilas tentang kesesi, dan untuk informasi lain seputar kesesi,serta info-info lain.seperti pendidikan,tutorial agama,tehnologi,dll. kami mengajak anda untuk bergabung dan memposting tentang apa saja disini.
Terima kasih
Langganan:
Postingan (Atom)